Mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, setiap kali pergi ke Jakarta kami biasanya menginap di apartemen kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Namun, untuk perjalanan kali ini kami mencoba suasana yang berbeda. Kami memilih menginap di Oakwood Premier Cozmo Jakarta, sebuah serviced apartment yang berada di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
Sebenarnya ide untuk menginap di kawasan ini datang dari Rani, adikku yang tinggal di Jakarta. Menurutnya, Mega Kuningan merupakan kawasan yang cukup strategis untuk keluarga yang ingin menikmati Jakarta tanpa harus selalu bepergian jauh untuk mencari tempat makan, berbelanja, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari tempat kami menginap, ada banyak hal yang bisa dijangkau dengan mudah. Kawasan ini juga merupakan bagian dari Segitiga Emas Jakarta, yang dikenal dengan gedung-gedung perkantoran, kedutaan besar, hotel internasional, dan apartemen kelas atas.
Menginap di Oakwood Premier Cozmo Jakarta
Salah satu alasan aku menyukai serviced apartment ketika bepergian selama beberapa hari bersama keluarga adalah fasilitasnya yang lebih praktis. Ruang keluarga, dapur, dan fasilitas mencuci pakaian adalah hal-hal yang selalu menjadi pertimbangan penting untuk aku ketika memilih akomodasi.
Oakwood Premier Cozmo juga mempunyai pilihan sarapan yang cukup lengkap. Ada makanan Western, masakan tradisional Indonesia, jajanan pasar, camilan kekinian, buah-buahan segar, minuman dingin, minuman hangat, bahkan jamu.
Setelah beberapa hari menginap, aku memperhatikan bahwa menu sarapannya tidak selalu sama setiap hari. Pilihan makanan vegetarian juga sangat bervariasi. Untuk urusan sarapan, aku dan anak-anak sama sekali tidak mempunyai keluhan.


Hal lain yang membuat apartemen ini praktis untuk ditinggali adalah fasilitas di dalam kompleksnya. Ada Starbucks, Subway, supermarket untuk membeli buah-buahan segar dan kebutuhan sehari-hari, farmasi, serta beberapa restoran. Jadi, kalau sedang tidak ingin pergi ke mana-mana, kami tetap bisa mendapatkan banyak kebutuhan tanpa harus berjalan di bawah teriknya matahari dan menghadapi polusi Jakarta.
Pusat perbelanjaan seperti Lotte Shopping Avenue, Kuningan City, dan Mal Ambasador juga berada di kawasan sekitar Kuningan.


Tentu saja, tidak ada tempat yang benar-benar sempurna. Mega Kuningan tetap merupakan kawasan bisnis yang cukup padat. Kemacetan pada jam-jam sibuk bisa mengganggu perjalanan, terutama jika ingin pergi ke tempat wisata di bagian lain Jakarta. Akses transportasi umum tersedia, tetapi tidak semuanya berada tepat di depan apartemen.
Walaupun begitu, untuk kebutuhan keluarga kami selama menginap di Jakarta, kawasan ini cukup nyaman.
Keberagaman Agama di Indonesia
Kebetulan tanggal 31 Juli 2026 jatuh pada hari Jumat. Hari itu kami berencana kembali mengunjungi Masjid Istiqlal, salah satu tempat ibadah paling terkenal di Jakarta.
Sebelum bercerita tentang kunjungan kami, ada sedikit hal menarik mengenai kehidupan beragama di Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi bukan negara Islam. Negara ini memiliki Pancasila sebagai dasar negara, dengan sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam administrasi kependudukan Indonesia, terdapat enam agama yang umum dicatat, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Berdasarkan data Ditjen Dukcapil untuk akhir tahun 2025, jumlah penduduk Indonesia sekitar 288,3 juta jiwa, dengan sekitar 251,3 juta penduduk beragama Islam. Artinya, sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam.
Karena itu, mendengar azan dari masjid melalui pengeras suara merupakan bagian yang sangat biasa dari kehidupan sehari-hari di banyak daerah di Indonesia. Begitu pula makanan dengan label halal yang mudah ditemukan di restoran, supermarket, dan tempat makan lainnya.
Namun, komposisi agama penduduk Indonesia tidak sama di setiap daerah.
Bali, misalnya, dikenal dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Sementara itu, Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur memiliki masyarakat dengan tradisi Katolik yang kuat. Salah satu destinasi terkenal di kawasan tersebut adalah Labuan Bajo, yang juga pernah kami kunjungi. Cerita perjalanan kami di sana bisa dibaca melalui artikel Liburan ke Labuan Bajo.
Keberagaman seperti inilah yang membuat Indonesia selalu menarik untuk kuperlihatkan kepada Caesar dan Milan. Setiap daerah mempunyai sejarah, budaya, tradisi, dan kehidupan keagamaan yang berbeda.
Mengapa hari Jumat istimewa bagi umat Islam?
Dalam agama Islam, hari Jumat mempunyai kedudukan khusus. Laki-laki Muslim yang memenuhi kewajiban salat Jumat berkumpul di masjid untuk mendengarkan khotbah dan melaksanakan salat berjemaah pada waktu Zuhur.
Perempuan Muslim juga diperbolehkan mengikuti salat Jumat, tetapi tidak diwajibkan.
Karena itu, menjelang tengah hari pada hari Jumat, banyak masjid mulai dipenuhi jemaah. Sebagian pekerja Muslim juga meninggalkan aktivitasnya sementara untuk menunaikan ibadah.
Dan karena hari itu adalah Jumat, kami memilih mengunjungi Masjid Istiqlal.
Masjid Istiqlal Jakarta
Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Indonesia dan termasuk salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Letaknya berada di Jakarta Pusat, tidak jauh dari Monumen Nasional (Monas), dan tepat berhadapan dengan Gereja Katedral Jakarta.
Masjid ini tidak hanya digunakan untuk kegiatan ibadah. Pengunjung juga dapat datang untuk mengenal sejarah, arsitektur, dan kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia.





Ada beberapa fakta menarik tentang Masjid Istiqlal yang menurutku membuat bangunan ini semakin istimewa.
Fakta menarik tentang Masjid Istiqlal
1. Nama Istiqlal berarti kemerdekaan
Kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti kemerdekaan. Pembangunan masjid ini dimaksudkan sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.
2. Dibangun di bekas benteng Belanda
Sebelum Masjid Istiqlal berdiri, kawasan tersebut merupakan lokasi Benteng Prins Frederik yang berasal dari masa kolonial Belanda. Jadi, tanah tempat masjid ini dibangun mempunyai sejarah yang lebih panjang daripada bangunannya sendiri.
3. Arsiteknya seorang Kristen
Salah satu fakta yang paling menarik adalah bahwa Masjid Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek Indonesia beragama Kristen Protestan.
Ia memenangkan sayembara rancangan masjid pada tahun 1955. Menurutku, fakta ini sendiri sudah menunjukkan sesuatu yang menarik mengenai sejarah kerja sama antarumat beragama di Indonesia.
4. Pembangunannya berlangsung sekitar 17 tahun
Pembangunan masjid dimulai pada masa pemerintahan Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan diresmikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto pada 22 Februari 1978.
5. Mempunyai kapasitas jemaah yang sangat besar
Kapasitas kompleks Masjid Istiqlal sering disebut mencapai sekitar 200.000 jemaah. Tidak mengherankan jika masjid ini menjadi salah satu lokasi penting untuk kegiatan keagamaan berskala besar.
6. Berdiri tepat di seberang Gereja Katedral Jakarta
Dua bangunan besar dari agama yang berbeda berdiri saling berhadapan. Kedekatan ini sudah lama dipandang sebagai salah satu simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
7. Memiliki Terowongan Silaturahmi
Terowongan bawah tanah ini menghubungkan kompleks Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta.
Terowongan Silaturahmi diresmikan pada 12 Desember 2024, beberapa bulan setelah kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Selain mempunyai makna simbolis, terowongan ini juga dirancang untuk membantu akses antara kedua kompleks tempat ibadah tersebut.
Apakah wisatawan non-Muslim boleh masuk Masjid Istiqlal?
Ya, wisatawan non-Muslim dapat mengunjungi Masjid Istiqlal. Namun, karena bangunan ini merupakan tempat ibadah yang aktif, terdapat aturan kunjungan yang harus diperhatikan.
Wisatawan yang ingin melihat bagian dalam masjid perlu mengikuti prosedur kunjungan dan arahan petugas.
Berdasarkan pengalaman kunjungan kami, berikut beberapa hal yang perlu diketahui.
1. Datang ke pintu masuk dan sampaikan tujuan kunjungan
Petugas akan mengarahkan wisatawan ke tempat pendaftaran atau layanan kunjungan.
2. Mendaftar sebagai wisatawan
Masjid Istiqlal menyediakan sistem pendaftaran wisatawan domestik maupun internasional melalui situs resminya:
3. Mengenakan pakaian yang sopan
Pada kunjungan kami, pengunjung yang memakai pakaian pendek atau terbuka akan dipinjami kain panjang yang disediakan petugas.
Pengunjung perempuan juga dipinjami selendang penutup kepala. Bentuknya tidak menutupi seluruh rambut seperti jilbab yang biasa digunakan sehari-hari.
4. Mengikuti arahan petugas atau pemandu wisata
Wisatawan non-Muslim dapat melihat arsitektur dan suasana bagian dalam masjid dari area yang diperbolehkan.
Kami dapat melihat ruang utama shalat dengan cukup jelas, meskipun tidak memasuki bagian yang digunakan jemaah untuk beribadah.
Menurutku, pengaturan seperti ini cukup baik karena pengunjung tetap bisa mengenal bangunan masjid tanpa mengganggu orang yang sedang melaksanakan ibadah.
5. Memperhatikan waktu shalat
Jika tujuan utamanya adalah berwisata dan melihat arsitektur masjid, sebaiknya hindari waktu salat Jumat karena jumlah jemaah sangat banyak.
Kunjungan wisata dapat direncanakan pada waktu lain sesuai jadwal dan ketentuan pengelola.
6. Memastikan informasi kunjungan terbaru
Jam operasional masjid yang tercantum dalam informasi yang kami gunakan adalah pukul 04.00 sampai 22.00 WIB. Namun, jam operasional tempat ibadah tidak selalu sama dengan jadwal tur wisatawan.
Karena itu, sebelum datang sebaiknya periksa kembali jadwal kunjungan melalui situs resmi Masjid Istiqlal atau layanan pendaftaran wisatawan.
Pada pengalaman kami, kunjungan wisata tidak dikenakan biaya tiket masuk. Pengunjung diarahkan dalam kelompok bersama pemandu yang menjelaskan sejarah dan kegiatan di masjid.
Dari Masjid Istiqlal Menuju Gereja Katedral Jakarta

Setelah selesai mengunjungi Masjid Istiqlal dan melihat suasana ibadah salat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Katedral Jakarta.
Lokasinya sangat dekat. Kami hanya perlu menyeberang melalui zebra cross di depan kawasan masjid untuk menuju gereja.
Rasanya memang kurang lengkap jika sudah mengunjungi Masjid Istiqlal tetapi tidak sekalian melihat Gereja Katedral yang berada tepat di seberangnya.
Apalagi kedua bangunan ini mempunyai sejarah yang saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat Jakarta.
Gereja Katedral Jakarta
Gereja Katedral Jakarta memiliki nama resmi Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bangunan gereja ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang penting bagi umat Katolik di Indonesia.
Bangunannya mempunyai arsitektur Neo-Gotik yang sangat berbeda dari Masjid Istiqlal. Menara-menara runcing, jendela kaca patri, dan bentuk bangunan yang menyerupai gereja-gereja tua di Eropa membuatnya mudah dikenali.


Ada beberapa fakta sejarah yang menarik mengenai Gereja Katedral Jakarta.
Fakta menarik tentang Gereja Katedral Jakarta
1. Diresmikan pada 21 April 1901
Bangunan Katedral yang berdiri sekarang diresmikan pada 21 April 1901, ketika Indonesia masih berada dalam masa kolonial Belanda.
2. Menggunakan arsitektur Neo-Gotik
Ciri khas arsitektur ini terlihat pada menara yang menjulang, bentuk lengkungan runcing, jendela kaca patri, dan langit-langit yang tinggi.
3. Rancangannya melibatkan seorang imam Yesuit
Pater Antonius Dijkmans, SJ, merupakan imam sekaligus arsitek yang membuat rancangan bangunan gereja. Pembangunannya kemudian dilanjutkan oleh insinyur M.J. Hulswit.
4. Memiliki tiga menara
Dua menara utama di bagian depan dikenal sebagai Menara Benteng Daud dan Menara Gading. Keduanya mempunyai tinggi sekitar 60 meter.
Sementara itu, menara yang lebih kecil di bagian tengah dikenal sebagai Menara Malaikat Tuhan atau Angelus Dei, dengan tinggi sekitar 45 meter.
5. Menaranya tidak seluruhnya dibuat dari batu
Walaupun penampilannya menyerupai gereja batu di Eropa, struktur menara Katedral menggunakan material logam. Hal ini menjadi salah satu keunikan rancangan bangunannya.
6. Altar utamanya berasal dari Groningen, Belanda
Nah, ini salah satu fakta yang paling menarik bagiku.
Altar utama Gereja Katedral Jakarta dibuat di Belanda pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1956, altar tersebut dipindahkan dari sebuah gereja Yesuit di Groningen ke Jakarta dan kemudian dipasang pada tahun 1958.
Mungkin karena ada sedikit hubungan sejarah dengan Belanda ini, Mas Bas selalu merasa tenang dan nyaman ketika berkunjung dan berdoa di Katedral Jakarta.
Barangkali aura Belandanya memang terasa cocok di sini. Hehehe.
7. Memiliki Museum Katedral
Di kompleks gereja juga terdapat Museum Katedral yang menyimpan koleksi berkaitan dengan sejarah Gereja Katolik di Indonesia.
Sayangnya, kami belum sempat mengunjungi museum ini.
8. Bangunan Katedral yang sekarang bukan bangunan pertamanya
Pada tahun 1890, atap bangunan gereja sebelumnya runtuh, tepat tiga hari setelah Paskah.
Setelah kejadian tersebut, umat Katolik menggunakan bangunan darurat selama sekitar sepuluh tahun hingga Katedral yang sekarang selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 1901.
9. Berhadapan dengan Masjid Istiqlal
Kedua rumah ibadah ini berdiri saling berhadapan dan kini dihubungkan oleh Terowongan Silaturahmi.
Kedekatan keduanya sering dijadikan contoh bagaimana dua komunitas agama yang berbeda dapat hidup berdampingan di tengah kota besar.
Apakah wisatawan non-Katolik boleh masuk Gereja Katedral Jakarta?
Ya. Sama seperti Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta juga dapat dikunjungi oleh wisatawan dari latar belakang agama yang berbeda.
Tentu saja, pengunjung tetap harus menghormati kegiatan ibadah yang sedang berlangsung.
Sebaiknya mengenakan pakaian sopan, menjaga ketenangan, dan tidak mengganggu orang yang sedang berdoa atau mengikuti misa.
Akses ke beberapa bagian gereja maupun museum juga dapat dibatasi ketika berlangsung kegiatan keagamaan.
Terowongan Silaturahmi antara Istiqlal dan Katedral
Terowongan Silaturahmi merupakan salah satu hal yang membuat hubungan kedua bangunan ini semakin menarik.
Disebutkan bahwa terowongan tersebut menghubungkan kompleks Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral melalui jalur bawah tanah. Pembangunannya tidak hanya berkaitan dengan kemudahan akses, tetapi juga mempunyai makna persaudaraan antarumat beragama.
Sayangnya, sudah dua tahun berturut-turut kami mengunjungi kedua tempat ibadah ini, tetapi belum mendapatkan izin untuk melewati Terowongan Silaturahmi secara langsung.
Jadi, meskipun sudah dua kali datang, masih ada bagian dari kawasan ini yang belum pernah kami lihat sendiri.
Menurutku, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral merupakan dua tempat menarik untuk dikunjungi dalam satu perjalanan. Bukan hanya karena arsitektur dan sejarahnya, tetapi juga karena makna keberagaman yang dimiliki keduanya.
Aku selalu percaya bahwa semakin kita terbuka untuk mengenal hal-hal yang berbeda, semakin sedikit pula ruang untuk salah paham terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah kedua tempat ibadah ini adalah kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3 sampai 6 September 2024.
Pada 4 September 2024, Paus Fransiskus mengunjungi Gereja Katedral Jakarta dan bertemu dengan para uskup, imam, biarawan, biarawati, seminaris, serta katekis.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari kunjungan pastoralnya kepada umat Katolik Indonesia.
Keesokan harinya, pada 5 September 2024, Paus Fransiskus mengunjungi Masjid Istiqlal dan disambut oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar.
Dalam kunjungan itu, mereka juga melihat Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan masjid dengan Katedral.
Keduanya kemudian menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024, yang menekankan pentingnya persaudaraan antar agama, martabat manusia, perdamaian, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ada satu hal menarik dari pidato Paus Fransiskus saat itu. Beliau secara khusus menyinggung bahwa Masjid Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek Kristen.
Menurut Paus Fransiskus, sejarah tersebut menunjukkan bahwa tempat ibadah dapat menjadi ruang untuk saling menghormati dan hidup berdampingan meskipun masyarakat mempunyai latar belakang agama yang berbeda.
Pengalaman Kami di Gereja Katedral Jakarta



Ketika kami masuk ke Gereja Katedral hari itu, ternyata sedang berlangsung upacara pemberkatan pernikahan.
Suasananya sakral dan indah. Walaupun ada kegiatan pernikahan, masih terdapat area yang dapat diakses oleh pengunjung lain.
Orang-orang yang ingin berdoa tetap dapat melakukannya, termasuk menyalakan lilin di depan patung Bunda Maria dan Yesus.
Kami pun dapat mengikuti acara pemberkatan pernikahan itu dan melihat-lihat suasana gereja tanpa mengganggu upacara sakral yang sedang berlangsung.
Suasana Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang kami kunjungi selama berada di Jakarta juga aku buat dalam vlog di YouTube Nasi en Stamppot. Videonya bisa dilihat di bawah ini.
Melanjutkan Perjalanan ke Kota Tua Jakarta
Indonesia memang mempunyai begitu banyak keberagaman yang rasanya tidak akan habis untuk diceritakan. Bahkan dari dua bangunan yang berdiri saling berhadapan ini saja, ada begitu banyak sejarah dan cerita menarik yang bisa dipelajari.
Setelah cukup lama berkeliling dan melihat kegiatan ibadah di Masjid Istiqlal maupun Gereja Katedral, kami merasa sudah cukup menikmati kunjungan kali ini. Kami sebenarnya masih mempunyai beberapa tempat lain yang ingin dikunjungi hari itu.
Perjalanan kami di Jakarta belum selesai.
Dari kawasan Istiqlal dan Katedral, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua Jakarta. Kali ini kami akan melihat sisi lain sejarah ibu kota, melalui bangunan-bangunan tua yang masih menyimpan jejak Batavia pada masa kolonial Belanda.
Suasananya tentu sangat berbeda dari Mega Kuningan, tempat kami menginap selama berada di Jakarta.
Tetapi cerita tentang Kota Tua akan kusampaikan dalam artikel berikutnya.
Transportasi Selama di Jakarta: Praktis dengan Taksi Online
Selama berada di Jakarta, kami menggunakan taksi online untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Layanan ini sangat praktis karena bisa dipesan langsung melalui aplikasi di ponsel. Kami cukup memasukkan lokasi tujuan dan penjemputan, lalu perkiraan tarif perjalanan sudah bisa dilihat sebelum melakukan pemesanan.
Menurutku, biayanya juga cukup terjangkau, terutama untuk bepergian bersama-sama. Kami tidak perlu memikirkan rute perjalanan atau mencari tempat parkir di tengah padatnya lalu lintas Jakarta. Cara ini membuat perjalanan kami dari satu tempat wisata ke tempat lainnya menjadi lebih mudah dan nyaman.
Sebelum mengakhiri cerita ini, aku juga penasaran apakah kalian mengetahui fakta menarik atau cerita lain mengenai Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang belum kusebutkan di sini?
Atau mungkin ada rekomendasi tempat menarik di sekitar Mega Kuningan yang sebaiknya kami kunjungi kalau kembali ke Jakarta nanti?
Boleh berbagi cerita atau rekomendasi di kolom komentar. Siapa tahu ada tempat yang terlewat selama perjalanan kami kali ini. Aku akan senang sekali membacanya.
Sampai bertemu lagi dalam cerita perjalanan kami berikutnya, dari Kota Tua Jakarta.
Bekerja Sama dengan Twinkle So Bright: Punya produk, layanan, akomodasi, atau pengalaman wisata yang sesuai dengan cerita perjalanan keluarga kami? Lihat berbagai pilihan kerja sama yang tersedia di Twinkle So Bright.
Baca Juga
- Apa Saja yang Ada di Batu Caves?
- Apa Saja yang Bisa Dikunjungi Selama 1,5 Hari di Kuala Lumpur?
- Gagal Terbang ke Dubai karena Visa: Pelajaran Mahal dari Perjalanan Kami
- Hidup Luxury di Belanda?
- Labuan Bajo Series
- Memperpanjang Paspor Indonesia di Belanda Sebelum 6 Bulan
- Hari Raja di Belanda dan Tradisi Oranye
- Menikmati Keindahan Musim Semi di Keukenhof, Belanda: Tips Wisata dan Alergi Bunga


