Cerita Puspita

Hidup Luxury di Belanda?

Kami baru saja tiba di Kuala Lumpur. Saat berada di dalam taksi dari bandara menuju hotel, sopir taksi bertanya kepadaku, aku berasal dari mana.

“Indonesia,” jawabku.

Katanya, dia sudah tahu kalau aku dari Indonesia. Beberapa kali dia mendengar aku menyebut Indonesia ketika berbicara dengan Caesar dan Milan tentang bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Namun, yang sebenarnya ingin dia ketahui adalah di negara mana aku tinggal sekarang karena dia juga mendengar kami berbicara menggunakan bahasa lain yang tidak akrab di telinganya.

“Aku tinggal di Belanda,” kataku.

Setelah itu, dia mulai menyampaikan pendapat pribadinya. Menurutnya, aku pasti beruntung dan senang tinggal di Belanda karena hidupku tentu lebih luxury daripada ketika tinggal di Indonesia.

Aku hanya tertawa kecil.

“Luxury…Hmm…tidak juga,” jawabku.

Dia tidak percaya. Lalu dia menjelaskan maksudnya. Nilai euro jauh lebih tinggi daripada ringgit Malaysia. Jadi, ketika aku pergi ke Malaysia, semuanya pasti terlihat jauh lebih murah.

Aku kembali tertawa kecil.

Kujelaskan bahwa hidupku di Indonesia dulu juga baik-baik saja. Aku pernah bekerja di sebuah maskapai swasta Indonesia, kemudian pindah ke maskapai bertarif rendah asal Malaysia, AirAsia. Aku tidak harus menikah dengan orang bule untuk memiliki kehidupan yang saat itu menurutku sudah lumayan baik.

Dia tetap tidak setuju. Mungkin dia mengira aku belum memahami maksudnya. Menurutnya, karena nilai euro jauh lebih tinggi daripada mata uang negara-negara Asia, orang yang tinggal di Eropa otomatis memiliki kehidupan yang jauh lebih mewah.

Tinggal di Belanda Tidak Selalu Berarti Hidup Luxury

Pelan-pelan aku mencoba menngatakan bahwa dalam beberapa hal, hidup di Asia justru bisa terasa jauh lebih istimewa daripada hidup di Belanda.

Di Belanda, kebanyakan orang tidak memiliki asisten rumah tangga, babysitter, tukang kebun, atau sopir pribadi. Kami juga tidak bisa terlalu sering nongkrong minum kopi, memesan makanan secara online, atau bepergian menggunakan taksi online seperti yang biasa dilakukan banyak orang di Asia.

Semuanya dikerjakan sendiri. Membersihkan rumah, memasak, menjaga anak, mengurus kebun, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Kami juga sering pergi ke mana-mana dengan sepeda karena sepeda adalah salah satu pilihan transportasi yang paling murah dan praktis.

Namun, suara Pak Sopir semakin tinggi. Dia seperti tidak terima dan kembali berkata bahwa aku tidak mengerti maksudnya.

Dalam hati aku berkata “Tentu saja aku mengerti”.

Gaji di Belanda memang dibayarkan dalam euro dan nilainya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan ringgit atau rupiah. Namun, orang yang tinggal di Belanda juga membayar seluruh kebutuhan hidupnya dengan euro. Jadi, tidak semua orang Belanda tiba-tiba menjadi kaya raya.

Tidak semua orang Belanda mampu bepergian dengan pesawat ke negara-negara yang jauh. Banyak yang harus menabung terlebih dahulu. Uang itu dikumpulkan sedikit demi sedikit dari kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan sangat efisien.

Namun, dia tetap tidak setuju.

Dia memberi contoh teman-temannya yang pergi bekerja ke Australia dan Selandia Baru. Mereka melakukan pekerjaan yang menurutnya sederhana, seperti menjadi buruh pemetik stroberi. Ketika pulang ke Malaysia, mereka membawa banyak uang. Uang sejumlah yang teman-temannya hasilkan itu tidak mungkin dia dapatkan di Malaysia.

Kali ini aku hanya mengeluarkan suara, “Hehehe,” yang terdengar agak garing.

Katanya, kalau dia tidak memiliki tiga anak di Malaysia, dia juga ingin pergi bekerja ke luar negeri seperti teman-temannya.

Dia kemudian memberi contoh lain. Banyak orang Indonesia bekerja di Malaysia karena nilai ringgit lebih tinggi daripada rupiah.

Kali ini aku memilih mendengarkan saja.

Ini memang anggapan yang cukup umum. Bekerja di luar negeri dan menerima gaji dalam mata uang asing dianggap akan membuat seseorang kaya raya ketika pulang ke kampung halaman.

Sebenarnya, hal itu mungkin saja terjadi. Namun, tentu harus dilihat juga jenis pekerjaannya. Semakin sederhana pekerjaannya, biasanya gajinya juga tidak terlalu besar. Agar bisa membawa pulang banyak uang, hidupnya di luar negeri mungkin harus sangat super hemat.

Lain ceritanya jika seseorang tetap tinggal di kampung halaman, tetapi menerima gaji dari perusahaan luar negeri dengan nilai mata uang yang lebih tinggi. Kondisi seperti ini mungkin lebih mendekati teori cepat kaya yang dimaksud oleh Pak Sopir.

Namun, tidak apa-apa. Aku mencoba memahami sudut pandangnya.

Mungkin teman-temannya tidak menceritakan secara lengkap bagaimana kehidupan mereka selama bekerja di luar negeri. Barangkali yang diceritakan hanya bagian-bagian baiknya, sebagai cerita sukses yang membanggakan ketika pulang ke kampung halaman.

Aku maklum.

Namun, Pak Sopir sudah terlanjur menganggap aku tidak memahami maksudnya.

Mas Bas beberapa kali melirik ke arahku karena sopir itu berbicara dengan nada Melayu yang semakin tinggi. Aku tahu, aku tidak perlu menjawab lagi. Aku tersenyum sebagai tanda bahwa aku tidak akan menyampaikan pendapat apa pun, aku hanya akan mendengarkan ceritanya.

Hari itu, aku, Mas Bas, Caesar, dan Milan mendengarkan seorang bapak yang mungkin sedang sangat lelah bekerja. Semoga dengan berbicara panjang kepadaku, bebannya hari itu menjadi sedikit lebih ringan.

Selamat berjuang, para pejuang keluarga.

Bismillahirrahmanirrahim. Semoga Tuhan memudahkan hari-hari kita semua.

Karena hidup luxury bukan tentang tinggal di negara mana atau menerima gaji dalam mata uang apa. Hidup luxury adalah ketika kita bisa hidup sehat dan tenteram, di mana pun kita berada.

Kolaborasi
Artikel ini tidak menggunakan tautan afiliasi berbasis cookie. Twinkle So Bright bekerja melalui kolaborasi berbayar yang transparan, seperti sponsored story atau penempatan tautan natural yang relevan dengan isi konten. Jika Anda tertarik untuk berkolaborasi dalam artikel ini, silakan hubungi Puspita  untuk mendiskusikan ketersediaan dan rate kerja sama.

About the writer: Diah Puspito Rahayu
I am a Netherlands-based family travel and lifestyle writer, originally from Indonesia and now living in Enschede. Through Twinkle So Bright, I share first-hand travel experiences, family adventures, shopping discoveries, and practical tips based on places we have personally visited and products we genuinely use.My goal is to create helpful, experience-based content that remains useful long after publication, whether readers are planning a family holiday, researching a destination, or looking for everyday inspiration.

More about me · Nasi en Stamppot on YouTube · Twinklesobright on YouTube
Home » Hidup Luxury di Belanda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *