Bahasa Indonesia,  Jalan-Jalan

Gagal Terbang ke Dubai karena Visa: Pelajaran Mahal dari Perjalanan Kami

This article is also available in English

Ada satu hal penting yang aku pelajari dari perjalanan keluarga kami pada 2023. Sepintar atau sepengalaman apapun orang yang membantu mengurus tiket, persyaratan visa tetap harus kita cek sendiri.

Kesalahan kami hanya menyangkut satu paspor. Namun akibatnya, seluruh rencana perjalanan berubah. Kami gagal menginap di Dubai, kehilangan hotel dan tiket atraksi yang telah dibayar, harus mengubah penerbangan dengan biaya besar, lalu menunggu ber jam-jam di Bandara Düsseldorf dan Dubai.

Jawaban Singkat

Kami harus membatalkan rencana menginap dan berjalan-jalan di Dubai karena aku bepergian dengan paspor Indonesia dan tanpa kami tahu aku belum memiliki visa Uni Emirat Arab yang diperlukan. Mas Bas, Caesar, dan Milan menggunakan paspor Belanda sehingga persyaratan masuk mereka berbeda.

Walaupun kami sudah berhasil check-in online dan menerima boarding pass, dokumenku tetap diperiksa kembali di Bandara Düsseldorf. Dengan sangat berat hati kami kami mengubah perjalanan menjadi transit airside di Dubai dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta tanpa melewati imigrasi UEA.

Pelajaran terpenting dari pengalaman ini adalah: selalu memeriksa persyaratan masuk berdasarkan setiap paspor dalam rombongan adalah tanggung jawab kita sendiri. Jika rencana perjalanan dibantu oleh orang lain atau agen travel, ingatkan pada mereka bahwa jenis persyaratan bepergian ke lain negara bukan berdasarkan tempat tinggal atau kewarganegaraan mayoritas anggota keluarga.

Rencana Awal: Düsseldorf, Dubai, lalu Jakarta

Cerita ini bermula ketika kami merencanakan liburan musim semi pada 2023, setelah perjalanan internasional mulai kembali berjalan normal seusai pandemi Covid-19.

Milan ingin melihat Burj Khalifa di Downtown Dubai. Aku sendiri sudah ingin mengunjunginya sejak gedung tersebut diresmikan pada 4 Januari 2010.

Burj Khalifa, yang semula dikenal sebagai Burj Dubai, dirancang oleh Skidmore, Owings & Merrill dengan Adrian Smith sebagai consulting design partner. Bangunan setinggi 828 meter tersebut menggunakan denah berbentuk Y dengan tiga sisi yang terinspirasi oleh bunga Hymenocallis.

Milan tertarik melihat sendiri bagaimana bentuk bangunan itu. Sebelumnya kami pernah naik ke Menara Eiffel. Dari atas sana, bangunan dan jalanan Paris terlihat sangat kecil. Burj Khalifa memiliki tinggi sekitar dua setengah kali Menara Eiffel, jadi kami membayangkan pemandangannya akan terasa sangat berbeda.

Kami tentu tidak bisa naik sampai lantai 163 karena itu bukan area observasi umum. Pilihan untuk pengunjung berada di lantai 124 dan 125, kemudian dek observasi SKY di lantai 148 pada ketinggian 555 meter. Ada pula The Lounge di lantai 152 sampai 154, sekitar 585 meter dari permukaan tanah.

Selain Burj Khalifa, kami berencana mengunjungi Dubai Aquarium & Underwater Zoo di dalam Dubai Mall. Memang tangki utamanya dapat dilihat dari area umum mal sehingga aquarium ini bisa dilihat secara gratis tetapi kami ingin melihat lebih dalam maka kami juga membeli tiket untuk masuk ke Aquarium Tunnel, Underwater Zoo, dan Penguin Cove.

Melunasi Semua Tiket

Rencananya kami akan menginap beberapa hari di Dubai. Mas Bas juga memiliki urusan pekerjaan di sana. Setelah itu, kami akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Semua pengaturan perjalanan ini diurus oleh taf kepercayaan Mas Bas yang pernah bekerja sekitar sepuluh tahun di travel agent.  Tiket pesawat, hotel, dan beberapa tiket atraksi telah dibayar karena khawatir tiket atraksi akan habis jika dibeli mendadak setelah kami tiba disana.

Karena pengalaman kerjanya itu, aku percaya semuanya sudah diperiksa. Aku tidak mengecek kembali persyaratan masuk berdasarkan paspor ku sendiri.

Ternyata itu keputusan yang fatal.

Tertahan di Bandara Karena Satu Paspor Berbeda

Ketika aku masih sibuk menyelesaikan packing, Mas Bas memberi tahu bahwa stafnya telah melakukan online check-in untuk kami. Boarding pass juga sudah terbit dan di file dalam map perjalanan.

Dalam keluarga kami ada dua kewarganegaraan. Mas Bas, Caesar, dan Milan menggunakan paspor Belanda sementara aku masih menggunakan paspor Indonesia dan memiliki izin tinggal Belanda.

Saat di konter check-in Bandara Düsseldorf, petugas memeriksa pasporku berulang kali. Ia melihat layar komputer, bertanya kepada koleganya, kemudian memeriksanya beberapa kali lagi.

Perasaanku mulai tidak enak.

Aku pernah bekerja di bidang penerbangan di Indonesia selama 12 tahun. Aku mengenali gestur seperti itu. Gestur itu adalah gestur umum para petugas yang mencurigai ada sesuatu dalam dokumen penumpang yang perlu diperiksa lebih jauh.

Petugas kemudian bertanya apakah aku memiliki visa untuk masuk ke Dubai.

Aku langsung melihat Mas Bas karena Mas Bas menyimpan semua file dalam mapnya. Mas Bas menjelaskan dengan santai bahwa kami hanya akan tinggal beberapa hari dan memiliki tiket lanjutan ke Jakarta.

Namun masalahnya bukan berapa lama kami akan tinggal atau ada dan tidaknya tiket keluar dari UAE. Masalahnya adalah persyaratan masuk berdasarkan paspor yang digunakan.

Pemegang paspor Belanda termasuk dalam daftar kewarganegaraan yang dapat memperoleh izin masuk saat tiba di UEA sesuai ketentuan yang berlaku. Sedangkan, pemegang paspor Indonesia pada umumnya harus memiliki visa yang telah diatur sebelum perjalanan. Izin tinggal Belanda tidak otomatis menggantikan persyaratan visa berdasarkan paspor Indonesia.

Paspor Indonesia visa turis harus diurus dan disetujui sebelum berangkat. 

Pilihan visa yang umum:

  • Visa turis 30 hari, sekali masuk, sekitar US$90
  • Visa turis 60 hari, sekali masuk, sekitar US$177
  • Visa transit 48 jam, US$10
  • Visa transit 96 jam, US$49

Harga tersebut adalah tarif melalui Emirates dan masih mungkin ditambah biaya pemrosesan. Jika terbang dengan maskapai lain, harga dan cara pengajuannya dapat berbeda.

Syarat utama biasanya:

  • Paspor berlaku minimal enam bulan sejak tanggal perjalanan
  • Foto berwarna
  • Salinan paspor
  • Tiket pulang pergi
  • Bukti pemesanan hotel
  • Visa atau izin tinggal Belanda yang masih berlaku

Jika terbang dengan Emirates, pengajuan dapat dilakukan setelah tiket terbit melalui menu Manage Booking. Prosesnya biasanya sekitar 3 sampai 4 hari kerja, tetapi sebaiknya diurus lebih awal.

Artinya, pada hari itu, aku tidak dapat mengikuti penerbangan sesuai rencana awal untuk masuk dan menginap di Dubai.

Mengapa Online Check-in Tetap Bisa Berhasil?

Kami shock di depan check in counter. Mas Bas bingung karena online check-in kami berhasil. Boarding pass-ku bahkan sudah terbit. Staf mas Bas mengira jika tidak akan ada masalah dengan visa karena sistem tidak langsung menolaknya.

Tapi tentu saja online check-in bukan keputusan akhir bahwa seorang penumpang memenuhi seluruh persyaratan masuk negara tujuan.

Maskapai masih harus memeriksa paspor, visa, izin tinggal, dan dokumen pendukung di bandara. Jika dokumen tidak memenuhi persyaratan, boarding pass online tidak menjamin penumpang akan diizinkan terbang.

Dalam perjalanan internasional, maskapai dapat menerima konsekuensi apabila membawa penumpang yang tidak memiliki izin masuk yang benar. Karena itu, pemeriksaan langsung tetap dilakukan sebelum bagasi diterima atau sebelum penumpang naik ke pesawat.

Saat itu aku merasa ceroboh dan bersalah kepada Mas Bas dan anak-anak. Semuanya tampak sudah diurus, tetapi justru karena itulah aku menjadi lengah dengan tidak benar-benar mengecek nya sendiri.

Stopover dan Transit Airside Bukan Hal yang Sama

Tidak ada jalan keluar selain tetap meneruskan perjalan dengan mencoret Dubai sebagai bagian awal stopover perjalanan kami kali itu. Mas Bas dan anak-anak tidak mau ke Dubai tanpa aku. 

Stopover adalah kami akan keluar dari bandara, melewati pemeriksaan imigrasi, menginap di Dubai, mengunjungi Burj Khalifa dan Dubai Aquarium, lalu kembali ke bandara untuk terbang ke Jakarta. Untuk melakukan itu, setiap anggota keluarga harus memenuhi persyaratan masuk UEA.

Setelah rencana tersebut dibatalkan, perjalanan kami diubah menjadi transit airside. Kami hanya berganti penerbangan di Dubai dan tidak keluar melalui imigrasi.

Persyaratan transit dapat berbeda berdasarkan maskapai, terminal, tiket lanjutan, kebutuhan mengambil bagasi, dan apakah penumpang harus meninggalkan area internasional. Karena itu, kata “hanya transit” tidak selalu cukup untuk menentukan apakah visa diperlukan.

Dalam kasus kami, penerbangan lanjutan berada dalam satu perjalanan Emirates dan koper diteruskan ke Jakarta. Kami tidak perlu mengambil bagasi atau masuk ke Dubai.

Mengubah Tiket dengan Biaya yang Hampir Sama seperti Tiket Baru

Petugas mengarahkan kami ke bagian layanan pelanggan untuk mencari jam penerbangan lain. Untungnya hari itu ada dua kali penerbangan ke Dubai yang bisa juga di sambungkan ke Jakarta. Kami mendapat penerbangan malam terakhir dari Düsseldorf, tetapi biaya perubahan tiketnya hampir sama dengan membeli tiket baru.

Kerugiannya tidak berhenti di situ. Hotel di Dubai dan tiket atraksi yang telah dibayar juga tidak dapat kami refund.

Karena jadwal berubah, kami akan tiba di Jakarta lebih awal daripada rencana semula. Kami pun harus mencari hotel di Jakarta secara mendadak.

Untungnya pemesanan hotel sudah dapat dilakukan secara digital. Kami memesan tempat menginap di Jakarta dari kursi ruang tunggu Bandara Düsseldorf sambil menunggu tiket baru diterbitkan.

Menunggu Berjam-jam di Bandara Düsseldorf

Hari itu kami datang sesuai jadwal penerbangan semula, jadi waktu tunggu menuju penerbangan pengganti terasa sangat panjang.

Hati masih terasa masygul. Rencana yang sudah disusun berubah hanya dalam waktu singkat, dan uang yang telah dikeluarkan tidak sedikit. Namun tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan mencari makan malam di bandara.

Kali itu kami akan berangkat dari Düsseldorf sekitar 21.15. Tiba di Dubai sekitar 06.20 keesokan paginya yang artinya durasi penerbangan sekitar 7 jam 5 menit

Jika suatu hari oleh sebab apapun kalian harus menunggu lama di Bandara Düsseldorf, beberapa fasilitas berikut dapat membantu:

DUS Explore & Enjoy berada di area belanja publik pada level keberangkatan. Di sana terdapat permainan digital, spot foto, dan beberapa aktivitas interaktif. Area ini dapat digunakan tanpa boarding pass.

DUS Rhein Lounge dan DUS Sky Lounge menyediakan makanan ringan, minuman, Wi-Fi, dan tempat duduk yang lebih tenang. Harga serta paket keluarga dapat berubah, jadi sebaiknya diperiksa melalui situs resmi bandara.

Wi-Fi standar tersedia gratis di dalam terminal.

Restoran, toko, ATM, penukaran uang, dan fasilitas ganti popok tersedia di beberapa bagian terminal.

SkyTrain menghubungkan terminal dengan stasiun Düsseldorf Flughafen. Namun pergi ke pusat kota hanya masuk akal jika waktu tunggu benar-benar panjang dan masih ada cukup waktu untuk kembali, melewati pemeriksaan keamanan, serta menuju gate.

Karena perubahan tiket kami terjadi secara mendadak, kami memilih tetap berada di bandara.

Waiting for our new flight at Düsseldorf Airport
Menunggu penerbangan selanjutnya ( paling akhir ) di bandara Düsseldorf Jerman

Our AirZlink eSIM App promo code: bright
Get 30% off in the AirZlink eSIM App.

Get AirZlink eSIM here


Transit di Dubai Sebelum Melanjutkan ke Jakarta

Setelah tiba di Dubai, kami kembali menunggu penerbangan menuju Jakarta. Namun kali ini situasinya berbeda. Kami tidak melewati imigrasi atau meninggalkan bandara. Rencana keberangkatan dari Dubai pukul 10.50. Tiba di Jakarta sekitar 22.25. Sehingga durasi Dubai ke Jakarta sekitar 8 jam 35 menit. Tetapi ditambah waktu transit di Dubai sekitar 4 jam 30 menit.

Karena perjalanan berada dalam satu tiket dan koper diteruskan ke Jakarta, kami tidak perlu mengambil bagasi di Dubai.

Milan at Dubai Airport with the Burj Khalifa in the distance
Milan di Dubai Airport dengan Burj Khalifa tampak sangat jauh dari kaca ruang tunggu bandara

Untungnya, Dubai International Airport  termasuk salah satu bandara transit paling lengkap di dunia.

Beberapa hal yang bisa dilakukan kalau kamu punya transit panjang di DXB:

  • Zen Garden di Terminal 3 — taman kecil dengan kolam ikan dan aliran air, tempat yang pas untuk sekadar duduk tenang setelah drama di bandara sebelumnya.
  • Area bermain anak — tersedia di beberapa titik terminal, cukup membantu untuk anak-anak yang sudah lelah duduk lama di pesawat maupun ruang tunggu.
  • Duty-free dan pusat perbelanjaan — salah satu yang terbesar di dunia, buka 24 jam, dari kosmetik sampai souvenir khas Emirat.
  • Beragam pilihan makan — dari restoran cepat saji sampai menu Timur Tengah otentik, cocok untuk mengisi waktu makan malam atau sarapan yang jadwalnya berantakan karena reschedule.
  • Shower gratis — tersedia di Terminal 1 dan 3, lumayan menyegarkan setelah penerbangan panjang dan drama panjang di darat.
  • Wi-Fi cepat dan gratis di seluruh terminal, untuk sekedar mengabari keluarga bahwa kami baik-baik saja walaupun rencana perjalanan telah berubah.

Bagi penumpang yang mempertimbangkan keluar dari bandara selama transit panjang, waktu tunggu bukan satu-satunya hal yang harus diperhitungkan. Mereka juga perlu mengecek:

  • Persyaratan visa berdasarkan paspor
  • Waktu pemeriksaan imigrasi
  • Perpindahan antar terminal
  • Waktu perjalanan dari dan menuju bandara
  • Waktu pemeriksaan keamanan ketika kembali
  • Ketentuan bagasi
  • Waktu boarding penerbangan berikutnya

Transit tujuh atau delapan jam belum tentu berarti seseorang memiliki cukup waktu untuk berjalan-jalan di Dubai.

Pelajaran dari Kesalahan Visa Kami

Sejak pengalaman tersebut, kami selalu memeriksa sendiri dokumen setiap anggota keluarga sebelum bepergian ke luar negeri.

1. Periksa setiap paspor secara terpisah

Persyaratan visa ditentukan antara lain oleh paspor yang digunakan, bukan oleh kewarganegaraan pasangan atau mayoritas anggota keluarga.

Keluarga dengan paspor campuran tidak boleh memakai persyaratan satu anggota keluarga sebagai patokan untuk semua orang.

2. Izin tinggal bukan pengganti paspor

Memiliki izin tinggal Belanda tidak berarti aku otomatis memperoleh persyaratan masuk yang sama dengan pemegang paspor Belanda.

Izin tinggal mungkin relevan dalam proses tertentu, tetapi keputusan visa tetap bergantung pada ketentuan negara tujuan.

3. “Sudah diurus” belum tentu berarti “sudah diperiksa”

Agen perjalanan atau orang yang berpengalaman tetap dapat melewatkan satu detail. Setelah tiket diterbitkan, cocokkan kembali nama, paspor, masa berlaku dokumen, visa, rute, transit, hotel, dan tiket pulang atau lanjutan.

4. Online check-in bukan persetujuan imigrasi

Boarding pass yang terbit secara online bukan bukti bahwa visa dan dokumen masuk telah dinyatakan lengkap.

Pemeriksaan dokumen masih dapat dilakukan di konter, gate, titik transit, dan imigrasi negara tujuan.

5. Bedakan transit dan stopover

Keluar dari bandara untuk menginap atau berjalan-jalan berarti penumpang harus memenuhi persyaratan masuk negara tersebut.

Transit airside mungkin tidak membutuhkan visa, tetapi kondisinya harus diperiksa berdasarkan paspor, maskapai, terminal, bagasi, dan susunan tiket.

6. Jangan membeli terlalu banyak tiket non-refundable sebelum dokumen beres

Memesan lebih awal memang dapat mengurangi risiko kehabisan tiket. Namun sebelum membayar hotel atau atraksi yang tidak dapat dibatalkan, pastikan dahulu visa dapat diajukan dan waktu pemrosesannya cukup.

Jika memungkinkan, pilih tarif yang dapat diubah atau dibatalkan sampai dokumen perjalanan disetujui.

Checklist untuk Keluarga

Sebelum membayar seluruh perjalanan, perlu memeriksa:

  • Paspor yang akan digunakan setiap orang
  • Masa berlaku paspor
  • Visa negara tujuan
  • Visa atau ketentuan negara transit
  • Apakah bagasi diteruskan sampai tujuan akhir
  • Apakah harus berpindah terminal atau bandara
  • Apakah transit mengharuskan keluar melalui imigrasi
  • Bukti hotel dan tiket lanjutan
  • Waktu pemrosesan visa
  • Ketentuan perubahan dan pembatalan tiket
  • Kebijakan refund hotel dan atraksi
  • Asuransi perjalanan serta pengecualiannya

Untuk informasi visa, sumber terbaik adalah situs pemerintah negara tujuan, kedutaan, atau maskapai yang menerbitkan tiket. Persyaratan dapat berubah, sehingga artikel perjalanan lama atau unggahan media sosial sebaiknya tidak menjadi satu-satunya acuan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apakah pemegang paspor Indonesia memerlukan visa untuk mengunjungi Dubai?

A: Pada umumnya, pemegang paspor Indonesia perlu mengatur visa UEA sebelum melakukan perjalanan untuk masuk dan menginap di Dubai. Jenis visa, biaya, dokumen, dan cara pengajuan dapat berubah. Periksa kembali melalui otoritas UEA atau maskapai yang digunakan sebelum membeli perjalanan yang tidak dapat dibatalkan.

Q: Apakah izin tinggal Belanda menggantikan visa Dubai?

A: Tidak secara otomatis. Izin tinggal Belanda tidak mengubah paspor Indonesia menjadi paspor Belanda. Persyaratan masuk tetap harus diperiksa berdasarkan paspor dan ketentuan UEA yang berlaku.

Q: Apakah pemegang paspor Belanda memerlukan visa Dubai?

A: Pemegang paspor Belanda termasuk dalam daftar kewarganegaraan yang memperoleh fasilitas masuk saat tiba sesuai ketentuan UEA. Lama tinggal, masa berlaku paspor, dan persyaratan lainnya tetap harus diperiksa sebelum keberangkatan.

Q: Apakah online check-in berarti visa sudah disetujui?

A: Tidak. Online check-in dan boarding pass bukan persetujuan dari imigrasi. Maskapai masih dapat melakukan pemeriksaan dokumen secara langsung dan menolak keberangkatan jika persyaratan tidak terpenuhi.

Q: Apakah visa diperlukan jika hanya transit di Dubai?

A: Tidak selalu. Transit airside tanpa melewati imigrasi dapat berbeda dari stopover untuk keluar dari bandara. Kebutuhan visa bergantung pada paspor, tiket lanjutan, bagasi, terminal, dan apakah penumpang harus memasuki wilayah UEA.

Q: Bisakah visa Dubai dibuat langsung di konter bandara sebelum berangkat?

A: Jangan mengandalkan kemungkinan itu. Jika paspor memerlukan visa yang telah diatur sebelumnya, pengajuan dan persetujuannya harus selesai sebelum perjalanan. Emirates menyebutkan waktu pemrosesan visa sekitar tiga sampai empat hari kerja dan menyarankan pengajuan dilakukan sedini mungkin.

Sekarang Kami Selalu Mengecek Sendiri

Memang betul kata pepatah bahwa pelajaran paling berharga adalah pengalaman, baik dari sisi biaya maupun tenaga. Kami kehilangan kesempatan mengunjungi Dubai, membayar perubahan tiket, dan harus memesan hotel tambahan di Jakarta.

Finally in Jakarta, at the hotel we booked from the waiting area at Düsseldorf Airport
Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di hotel di Jakarta yang baru kami pesan saat menunggu di Bandara Düsseldorf, Jerman.

Namun ada satu kebiasaan yang berubah setelahnya. Sekarang kami tidak lagi terlalu percaya pada orang lain yang mengurus dokumen kami walaupun dia mengklaim dirinya sangat berpengalaman. Kami selalu memeriksa dokumen kami sekali lagi. Setiap paspor diperiksa sendiri, termasuk persyaratan negara tujuan dan negara transit.

Bantuan agen tetap berguna. Online check-in juga mempermudah perjalanan. Namun keputusan akhir untuk memastikan bahwa paspor, visa, dan rute sudah benar tetap berada pada orang yang akan bepergian.

Seandainya waktu itu aku mengeceknya sendiri, perjalanan kami mungkin akan berjalan sesuai rencana. Tapi kami tetap percaya bahwa suatu hari kami akan benar-benar berkunjung ke Burj Khalifa pada saat yang tepat dan membawa cerita baik yang bisa aku bagikan di blog ini. Terimakasih sudah mengikuti cerita kami. Jika kamu juga punya pengalaman serupa, aku akan juga senang mendengar pengalamanmu di kolom komentar di bawah ini.


Our Promeed partner code: PUSPITA2026. Use this code when ordering through our Promeed partner link.


Bekerja Sama dengan Twinkle So Bright: Punya layanan atau produk yang dapat membantu keluarga menghindari masalah perjalanan seperti ini? Artikel ini terbuka untuk kerja sama relevan yang memberikan manfaat praktis bagi pembaca. Lihat pilihan kerja sama

You May Also Like

Tentang penulis:

Diah Puspito Rahayu

Independent Publisher, Creative Entrepreneur, dan Brand Collaborator

Diah Puspito Rahayu adalah perempuan Indonesia, istri, dan ibu yang tinggal di Enschede, Belanda. Melalui Twinkle So Bright, Diah menulis tentang perjalanan keluarga, kehidupan di Belanda, belanja, dan berbagai pengalaman sehari-hari. Ia juga bekerja sama dengan brand dan agency dalam pembuatan artikel dan product integration, serta membuat konten Nasi en Stamppot bersama Caesar dan Milan.

Lebih lanjut tentang Diah · Nasi en Stamppot di YouTube · Twinkle So Bright di YouTube
Home » Gagal Terbang ke Dubai karena Visa: Pelajaran Mahal dari Perjalanan Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *