Cerita Puspita

Asal usul Sinterklaas, tradisi Sinterklaas di Belanda, Santo Nikolas, Pakjesavond

Jika Halloween modern dikenal sebagai perayaan yang berkembang di Amerika melalui pengaruh para imigran Irlandia dan Skotlandia, Belanda juga mempunyai tradisi khas yang sudah dipelihara selama berabad-abad dan masih dirayakan sampai hari ini.

Tokohnya sangat lekat dengan kehidupan anak-anak di Belanda. Siapa lagi kalau bukan Sinterklaas bersama teman-temannya yang disebut Piet.

Walaupun beberapa bagian tradisinya menuai kontroversi, Sinterklaas tetap menjadi salah satu tokoh paling terkenal dalam budaya Belanda. Bahkan, tradisi Sinterklaas ikut memengaruhi perkembangan Santa Claus di Amerika. Nama Santa Claus sendiri berasal dari perubahan pengucapan nama Belanda, Sinterklaas.

Setiap tahun, sekitar pertengahan November sampai 5 Desember, suasana Sinterklaas mulai terasa di berbagai tempat di Belanda. Anak-anak menantikan kedatangannya, toko-toko mulai dipenuhi cokelat berbentuk huruf, pepernoten, dan berbagai hadiah. Di rumah, anak-anak menyiapkan sepatu dengan harapan menemukan sesuatu di dalamnya keesokan pagi.

Kali ini aku ingin bercerita tentang sejarah Sinterklaas. Dari mana sebenarnya tokoh ini berasal? Mengapa ia datang dari Spanyol, padahal tokoh sejarahnya hidup di wilayah Turki? Dan siapa yang pertama kali menciptakan kebiasaan memberikan hadiah dalam sepatu?

Uskup dari Wilayah yang Sekarang Menjadi Turki

Seperti yang kusebutkan di awal, Sinterklaas merupakan tradisi khas Belanda, tetapi asal tokohnya justru bukan dari Belanda.

Sinterklaas berasal dari tokoh sejarah bernama Santo Nikolas (Sint Nicolaas atau Saint Nicholas), seorang uskup Kristen yang hidup sekitar abad ke-4 di Myra, wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Turki.

Santo Nikolas dikenal melalui berbagai cerita tentang kemurahan hatinya, terutama dalam membantu orang miskin dan anak-anak.

Setelah aku telusuri lebih jauh, ternyata Santo Nikolas juga dikenal di Turki, tetapi bukan melalui perayaan Sinterklaas seperti yang kita temukan di Belanda.

Di Turki, Santo Nikolas dikenal sebagai Aziz Nikolaos. Namanya juga sering dikaitkan dengan Noel Baba, yang berarti Bapak Natal, meskipun Noel Baba dalam budaya Turki modern lebih menyerupai Santa Claus daripada sosok uskup dalam tradisi Belanda.

Myra, tempat Santo Nikolas pernah menjadi uskup, sekarang berada di kawasan Demre, Provinsi Antalya, Turki. Di sana masih terdapat Gereja Santo Nikolas, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi tujuan wisata sekaligus tempat ziarah umat Kristen. Gereja tersebut memiliki makam yang secara tradisional dikaitkan dengan Santo Nikolas. Namun, pada tahun 1087, sebagian besar tulang-belulang ( relik ) yang diyakini sebagai peninggalan Santo Nikolas dibawa dari Myra ke Bari, Italia.

Ada satu hal yang perlu dibedakan. Walaupun Santo Nikolas hidup di wilayah yang sekarang termasuk Turki, ia bukan orang Turki dalam pengertian kebangsaan modern. Pada masa hidupnya, Myra merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi dengan pengaruh budaya dan bahasa Yunani yang kuat.

Salah satu legenda paling terkenal tentang Santo Nikolas menceritakan bagaimana ia diam-diam membantu seorang ayah miskin yang mempunyai tiga anak perempuan. Menurut cerita tersebut, Santo Nikolas memberikan emas agar ketiga perempuan itu mempunyai bekal untuk menikah dan tidak jatuh ke dalam keadaan yang lebih sulit. Cerita ini kemudian menjadi salah satu kisah yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan memberikan hadiah secara diam-diam.

Namun, kisah pemberian emas tersebut merupakan legenda keagamaan yang diwariskan selama berabad-abad. Rincian peristiwanya tidak dapat dipastikan sebagai fakta sejarah.

Bagaimana Kisah Santo Nikolas Sampai ke Belanda?

Lalu bagaimana cerita tentang seorang uskup yang hidup di wilayah Turki bisa sampai ke Belanda?

Pada zaman dahulu, orang-orang Eropa sudah mengenal Santo Nikolas melalui cerita yang disebarkan oleh gereja. Ia dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka menolong, terutama anak-anak dan orang miskin.

Santo Nikolas juga dipercaya sebagai pelindung para pelaut dan pedagang. Karena pada masa itu banyak orang bepergian dan berdagang menggunakan kapal, namanya pun semakin dikenal di berbagai kota pelabuhan Eropa, termasuk di wilayah Belanda.

Bahkan, Amsterdam menjadikan Santo Nikolas sebagai santo pelindung kotanya. Salah satu gereja tertua di Amsterdam, Oude Kerk, awalnya juga didedikasikan untuk Santo Nikolas.

Jadi, masyarakat Belanda mengenal Santo Nikolas bukan karena ia berasal dari Turki, melainkan karena cerita tentang dirinya sudah menyebar ke berbagai negara di Eropa sejak berabad-abad lalu.

Mengapa Hari Santo Nikolas Diperingati pada 6 Desember?

Pada Abad Pertengahan, tanggal 6 Desember sudah dikenal sebagai hari peringatan Santo Nikolas dalam kalender gereja.

Menurut tradisi Kristen, Santo Nikolas meninggal pada tanggal tersebut, kemungkinan pada abad ke-4.

Namun, tidak ada bukti sejarah yang dapat memastikan bahwa ia benar-benar meninggal pada 6 Desember. Bahkan, tahun kematiannya pun masih diperdebatkan. Tahun 343 M sering disebut, tetapi bukan tanggal yang dapat dipastikan secara historis.

Awalnya aku bingung, mengapa orang memperingati tanggal kematian Santo Nikolas dan bukan tanggal kelahirannya?

Bukankah biasanya kita justru bergembira ketika memperingati ulang tahun seseorang?

Jawaban yang kudapat kurang lebih adalah, dalam tradisi Kristen awal, hari kematian seorang santo sering dianggap lebih penting daripada hari kelahirannya.

Kematian dipandang sebagai awal kehidupan abadi bersama Tuhan. Karena itu, banyak hari peringatan orang kudus ditetapkan berdasarkan tanggal kematian yang diwariskan dalam tradisi gereja.

Ketika penghormatan kepada Santo Nikolas menyebar ke berbagai wilayah Eropa, tanggal 6 Desember ikut menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Di Belanda, perayaan keluarga kemudian lebih dikenal berlangsung pada malam 5 Desember, yaitu malam menjelang Hari Santo Nikolas.

Malam inilah yang sekarang disebut Pakjesavond.

Bagaimana Santo Nikolas Menjadi Sinterklaas di Belanda?

Kisah kemurahan hati Santo Nikolas, terutama yang berkaitan dengan anak-anak dan pemberian hadiah, perlahan berkembang menjadi tradisi Sinterklaas.

Dalam gambaran yang kita kenal sekarang, Sinterklaas adalah seorang pria tua berjanggut putih, mengenakan jubah uskup, topi tinggi yang disebut mijter, serta membawa tongkat uskup.

Ia datang bersama para asistennya yang dikenal sebagai Piet.

Pada zaman dahulu, masyarakat di berbagai negara Eropa sudah memperingati Hari Santo Nikolas dengan mengadakan perayaan dan memberikan makanan atau hadiah kecil kepada anak-anak.

Kebiasaan ini juga dilakukan di Belanda. Anak-anak mulai mengenal Santo Nikolas sebagai tokoh yang membawa hadiah. Mereka juga mulai mempunyai kebiasaan meletakkan sepatu dengan harapan mendapatkan sesuatu di dalamnya.

Di wilayah Belanda, kebiasaan tersebut secara bertahap menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Dari sinilah Santo Nikolas perlahan berubah dalam budaya populer, dari seorang uskup yang dihormati menjadi sosok yang datang membawa hadiah.

Reformasi Protestan dan Bertahannya Perayaan Sinterklaas

Pada abad ke-16, Reformasi Protestan membawa perubahan besar dalam kehidupan beragama di Belanda.

Kalangan Calvinis menentang penghormatan kepada orang-orang kudus, termasuk Santo Nikolas. Di beberapa tempat, pemerintah kota juga berusaha membatasi kegiatan yang berkaitan dengan perayaannya.

Tetapi tradisi Sinterklaas ternyata tidak mudah dihilangkan. Kebiasaan memberikan hadiah dan makanan manis kepada anak-anak sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Walaupun penghormatan keagamaannya mengalami perubahan.

Sinterklaas semakin berkembang sebagai tradisi budaya dan keluarga, bukan semata-mata peringatan keagamaan.

Itulah sebabnya sampai sekarang perayaan Sinterklaas juga dikenal di keluarga-keluarga Belanda dengan latar belakang agama yang berbeda, termasuk keluarga yang tidak menjalankan tradisi keagamaan tertentu.

Salah satu bukti menarik bahwa Sinterklaas sudah menjadi perayaan keluarga sejak berabad-abad lalu dapat kita lihat dalam lukisan karya Jan Steen.

Lukisan Het Sint-Nicolaasfeest Karya Jan Steen

Pelukis Belanda Jan Steen membuat lukisan Het Sint-Nicolaasfeest sekitar tahun 1665 sampai 1668.

Lukisan tersebut memperlihatkan suasana sebuah keluarga yang sedang merayakan Santo Nikolas.

Ada anak yang terlihat senang menerima hadiah, tetapi ada juga anak yang menangis karena mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam sepatunya.

Lukisan ini menarik karena memperlihatkan bahwa tradisi pemberian hadiah, sepatu, serta cerita tentang anak yang berperilaku baik atau nakal sudah dikenal pada abad ke-17.

Jadi, kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang baru diciptakan ketika Sinterklaas mulai menjadi tokoh populer dalam buku anak-anak pada abad ke-19.

Lukisan aslinya sekarang menjadi bagian dari koleksi Rijksmuseum di Amsterdam.

Lukisan Het Sint-Nicolaasfeest ( Lukisan Jan Steen tentang keluarga merayakan Santo Nikolas pada abad ke-17 ) | https://smarthistory.org/jan-steen-feast-of-st-nicholas/

Jan Schenkman dan Cerita Sinterklaas Modern

https://www.sinterklaasfan.nl/jan-schenkman.html

Salah satu orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap gambaran Sinterklaas modern adalah Jan Schenkman, seorang pengajar dan penulis dari Amsterdam.

Pada tahun 1850, ia menerbitkan buku bergambar berjudul Sint Nikolaas en zijn knecht.

Buku ini menjadi sangat populer dan membantu memperkenalkan gambaran Sinterklaas yang kemudian semakin dikenal masyarakat Belanda.

Dalam buku tersebut, Sinterklaas datang menggunakan kapal uap dari Spanyol. Ia juga ditemani seorang asisten-asisten berkulit gelap yang pada saat itu belum disebut dengan nama Piet.

Buku ini ikut memopulerkan lagu Zie ginds komt de stoomboot, yang sampai sekarang masih menjadi salah satu lagu Sinterklaas paling terkenal di Belanda.

Ada pula cerita tentang Sinterklaas yang menunggang kuda di atas atap rumah, memperhatikan perilaku anak-anak, serta memberikan hadiah.

Namun, Jan Schenkman bukan pencipta seluruh tradisi Sinterklaas.

Beberapa unsur seperti hadiah dalam sepatu sudah dikenal jauh sebelum bukunya diterbitkan. Cerita mengenai kuda, atap rumah, dan cerobong juga mempunyai sejarah yang lebih rumit, sehingga tidak dapat dipastikan semuanya berasal dari satu orang.

Menurut Koninklijke Bibliotheek, perpustakaan nasional Belanda, belum diketahui dengan pasti apakah Schenkman sendiri menciptakan semua unsur cerita yang muncul dalam bukunya.

Yang jelas, buku tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan cerita Sinterklaas pada abad ke-19.

Jadi, sosok Sinterklaas yang kita kenal sekarang merupakan hasil perkembangan cerita rakyat, tradisi keagamaan, kebiasaan keluarga, dan karya sastra anak-anak selama berabad-abad.

Bukan gambaran langsung tentang kehidupan Santo Nikolas yang sebenarnya.

Sampul buku tahun 1850 ( Buku Sint Nikolaas en zijn knecht karya Jan Schenkman ) | https://www.sinterklaasfan.nl/jan-schenkman.html

Mengapa Sinterklaas Datang dari Spanyol?

Ini salah satu hal yang paling membuatku penasaran.

Jika Santo Nikolas hidup di Myra, wilayah yang sekarang menjadi Turki, mengapa dalam cerita Belanda Sinterklaas justru datang dari Spanyol?

Dalam perayaan modern, anak-anak Belanda mengenal Sinterklaas sebagai tokoh yang tinggal di Spanyol dan setiap tahun datang ke Belanda menggunakan kapal uap.

Tetapi secara sejarah, tidak ada bukti bahwa Santo Nikolas pernah tinggal di Spanyol.

Ada beberapa teori yang berusaha menjelaskan hubungan tersebut.

Salah satunya mengaitkan Spanyol dengan Bari, kota di Italia selatan tempat relik Santo Nikolas dibawa pada tahun 1087. Wilayah Italia selatan kemudian pernah berada di bawah kekuasaan Spanyol.

Namun, hubungan sejarah tersebut belum cukup untuk membuktikan mengapa Spanyol akhirnya dipilih sebagai tempat tinggal Sinterklaas dalam cerita rakyat Belanda.

Ada pula penjelasan yang menghubungkannya dengan perdagangan dan hubungan Belanda dengan wilayah Spanyol.

Sampai sekarang, tidak ada satu penjelasan yang dapat dipastikan sebagai asal-usul tunggal cerita tersebut.

Yang jelas, gambaran Sinterklaas datang dari Spanyol semakin dikenal melalui cerita, lagu, dan buku anak-anak, termasuk karya Jan Schenkman.

Piet dan Kontroversi dalam Tradisi Sinterklaas

Ketika membicarakan Sinterklaas, rasanya tidak lengkap jika tidak menyebut Piet.

Dalam perayaan Belanda, Piet dikenal sebagai teman dan asisten Sinterklaas yang ikut membagikan hadiah, makanan manis, serta menemani kedatangannya.

Namun, penggambaran Piet mengalami perubahan sepanjang sejarah.

Dalam buku Jan Schenkman tahun 1850, pembantu Sinterklaas digambarkan sebagai sosok berkulit gelap. Gambaran ini kemudian berkembang menjadi Zwarte Piet, yang selama bertahun-tahun dikenal melalui riasan wajah hitam, rambut keriting, bibir merah, dan pakaian berwarna-warni.

Penggambaran tersebut menimbulkan kontroversi karena dianggap oleh banyak orang mengandung stereotip rasial yang merendahkan orang berkulit hitam.

Sebagian masyarakat memandang Zwarte Piet sebagai bagian dari tradisi masa kecil yang ingin mereka pertahankan. Sementara itu, pihak yang mengkritiknya menilai bahwa tradisi tetap dapat dirayakan tanpa mempertahankan penggambaran yang dianggap diskriminatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perayaan menggunakan Roetveegpiet, yaitu Piet dengan bercak hitam seperti jelaga di wajah, bukan seluruh wajah yang dihitamkan.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa tradisi Sinterklaas, meskipun sudah sangat tua, tetap berkembang mengikuti perubahan masyarakat.

Tradisi Pakjesavond dan Hadiah dalam Sepatu

Salah satu bagian yang paling dikenal dari perayaan Sinterklaas adalah Pakjesavond, atau Malam Pemberian Hadiah.

Di Belanda, Pakjesavond dirayakan pada tanggal 5 Desember, sehari sebelum Hari Santo Nikolas.

Pada malam tersebut, keluarga berkumpul untuk membuka hadiah. Ada yang menyiapkan puisi Sinterklaas, ada pula yang membuat surprises, yaitu hadiah yang dibungkus secara kreatif, sering kali dengan bentuk lucu atau berkaitan dengan penerimanya.

Tetapi sebenarnya, siapa yang pertama kali menciptakan tradisi memberikan hadiah dalam sepatu?

Ternyata tidak ada satu nama yang dapat disebut sebagai penciptanya.

Salah satu cerita yang sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut adalah legenda Santo Nikolas yang diam-diam memberikan emas kepada tiga perempuan muda dari keluarga miskin.

Dalam beberapa versi cerita rakyat, emas itu masuk ke dalam kaus kaki atau sepatu yang sedang dikeringkan.

Namun, rincian mengenai sepatu dan kaus kaki merupakan bagian dari perkembangan legenda. Bukan peristiwa sejarah yang dapat dibuktikan.

Catatan Utrecht Tahun 1427

Salah satu rujukan sejarah yang menarik mengenai tradisi sepatu berasal dari Utrecht, Belanda, pada tahun 1427.

Dalam pembahasan sejarah Sinterklaas, terdapat catatan mengenai pemberian uang yang berkaitan dengan sepatu dan bantuan kepada orang miskin pada masa tersebut.

Catatan ini sering disebut sebagai salah satu jejak awal kebiasaan yang kemudian berkembang menjadi tradisi meletakkan sepatu.

Bentuk perayaan keluarga yang kita kenal hari ini berkembang secara bertahap selama berabad-abad.

Di Belanda sekarang, anak-anak biasanya meletakkan sepatu di dekat perapian atau tempat lain yang telah disiapkan.

Kadang mereka memasukkan wortel atau jerami untuk kuda Sinterklaas. Ada juga yang menyertakan gambar atau surat.

Keesokan paginya, mereka berharap menemukan cokelat, pepernoten, atau hadiah kecil di dalam sepatu tersebut.

Kebiasaan ini biasanya dilakukan pada beberapa malam selama musim Sinterklaas, tergantung tradisi masing-masing keluarga.

Mengapa Pakjesavond Dirayakan pada 5 Desember?

Tanggal 5 Desember berkaitan dengan malam menjelang peringatan Santo Nikolas pada 6 Desember.

Dalam tradisi perayaan Kristen Eropa, malam sebelum hari raya sering menjadi bagian dari rangkaian perayaan.

Seiring perkembangan budaya Belanda, malam tersebut menjadi waktu berkumpul bersama keluarga dan memberikan hadiah.

Bentuk Pakjesavond modern semakin berkembang pada abad ke-19 dan ke-20, ketika pemberian hadiah dalam lingkungan keluarga menjadi semakin umum.

Sampai sekarang, Pakjesavond tetap menjadi salah satu malam yang paling ditunggu oleh banyak anak-anak di Belanda.

Bagaimana dengan Santo Nikolas di Turki?

Setelah menelusuri sejarah Santo Nikolas dan bagaimana tradisinya berkembang di Belanda, aku kembali penasaran dengan satu hal.

Bagaimana masyarakat Turki sendiri mengenal tokoh yang berasal dari wilayah mereka?

Ternyata, masyarakat Turki tidak mempunyai tradisi Sinterklaas seperti di Belanda.

Santo Nikolas dikenal sebagai tokoh sejarah dan keagamaan, terutama melalui hubungannya dengan Demre dan gereja bersejarah yang menggunakan namanya.

Sementara itu, masyarakat Turki modern juga mengenal Noel Baba, sosok yang secara visual lebih menyerupai Santa Claus dengan pakaian merah dan janggut putih.

Berbeda dengan Sinterklaas yang dirayakan pada awal Desember, Noel Baba sering dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru atau Yılbaşı.

Pada perayaan Tahun Baru, sebagian keluarga di Turki juga bertukar hadiah dan menggunakan dekorasi yang menyerupai dekorasi Natal di negara-negara Barat.

Menurutku, ini menjadi bagian yang menarik dari perjalanan sebuah tradisi.

Seorang uskup yang hidup berabad-abad lalu di wilayah yang sekarang menjadi Turki justru berkembang menjadi tokoh yang sangat melekat dalam budaya keluarga Belanda. Sementara itu, di negara tempat ia dahulu hidup, gambaran modern yang lebih dikenal dalam perayaan akhir tahun justru menyerupai Santa Claus.

Dan dari tradisi Belanda inilah, nama serta sebagian unsur Sinterklaas kemudian ikut berkembang menjadi tokoh Santa Claus yang dikenal di seluruh dunia.

Bagaimana proses perubahan Sinterklaas menjadi Santa Claus di Amerika? Cerita itu akan kubahas dalam artikel berikutnya.

Kalau kamu mempunyai informasi menarik lainnya tentang Sinterklaas, Santa Claus, atau Noel Baba, kamu boleh menuliskannya di kolom komentar.

Aku juga penasaran, apakah di tempat tinggalmu ada perayaan dengan tradisi memberikan hadiah kepada anak-anak seperti ini? Ceritakan di kolom komentar supaya kita bisa mengenal tradisi dari negara lain.

Terima kasih sudah membaca cerita ini.

Di bawah artikel ini aku juga menyertakan beberapa pilihan produk yang bisa menjadi inspirasi hadiah untuk orang-orang terkasih di sekitarmu.

Bekerja Sama dengan Twinkle So Bright: Punya produk, layanan, akomodasi, atau pengalaman wisata yang sesuai dengan cerita perjalanan keluarga kami? Lihat berbagai pilihan kerja sama yang tersedia di Twinkle So Bright.

Baca Juga

About the author:

Diah Puspito Rahayu

Independent Publisher, Creative Entrepreneur, and Brand Collaborator

Diah Puspito Rahayu is an Indonesian woman, wife, and mother living in Enschede, the Netherlands. Through Twinkle So Bright, Diah writes about family travel, life in the Netherlands, shopping, and everyday experiences. She also works with brands and agencies on articles and product integrations, and creates content for Nasi en Stamppot with Caesar and Milan.

More about Diah · Nasi en Stamppot on YouTube · Twinkle So Bright on YouTube
Home » Asal usul Sinterklaas, tradisi Sinterklaas di Belanda, Santo Nikolas, Pakjesavond

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *